Rafa Benitez menginstruksikan pemainnya untuk tampil menyerang sejak menit awal dan menutup defisit satu gol di leg pertama. Untuk itu ia memasang memasang lima gelandang sekaligus di depan tiga bek dan di belakang dua penyerang, Dirk Kuyt dan Ryan Babel.
Sementara Atletico masih tetap dengan formasi 3-4-3 andalannya, memasang tridente Diego Forlan, Sergio Aguero dan Jose Antonio Reyes.
Taktik Benitez terbukti manjur. Tiga tembakan ke gawang berhasil dilepaskan Liverpool, termasuk tendangan Yossi Benayoun pada detik kesembilan, memaksa kiper Atletico, David De Egea, berjibaku menepis tendangannya.
Satu tembakan lagi dilepaskan Steven Gerrard yang juga berhasil ditepis De Egea, sementara Atletico membalas melalui tendangan jarak jauh Luis Garcia, yang berhasil dipatahkan Reina.
Selain tembakan ke gawang, Gerrard juga sempat mengancam dari dalam kotak penalti namun tendangannya dapat dihalau Aguero, sementara penetrasi Forlan melalui umpan satu dua dengan Aguero berhasil dipatahkan Javier Mascherano.
Daniel Agger sempat mengoyak jala Atletico melalui sundulannya pada menit 31, namun wasit menganulirnya karena Agger berada dalam posisi offside, Liverpool pun masih kalah agregat 0-1.
Gol baru tercipta satu menit jelang turun minum melalui sundulan Alberto Aquilani memanfaatkan umpan silang Benayoun, yang sebelumnya sukses memperdaya bek lawan di sayap kanan. 1-0 Liverpool unggul dan bertahan hingga wasit T Hauge mengakhiri babak pertama.
Di babak kedua, masing-masing tim merapatkan pertahanannya. Atletico Madrid mencoba peruntungan melalui tendangan jarak jauh, namun tendangan Simao, Reyes dan Assuncao gagal mencapai sasaran.
Sementara Liverpool, yang kurang tajam dalam penyelesaian akhir, tak banyak mengancam meski berhasil melakukan penetrasi ke lini belakang Atletico.
Satu peluang melalui sundulan Dirk Kuyt masih melebar sementara aksi individu Glenn Johnson yang menusuk ke kotak penalti dan melepaskan tendangan keras masih dapat digagalkan kiper De Egea.
Tak ada gol tambahan tercipta, kedua tim terpaksa memainkan babak perpanjangan waktu.
Lima menit waktu tambahan dimulai, Liverpool berhasil mencetak gol melalui Yossi Benayoun.
Gol tercipta setelah Gerrard, yang tak menemukan celah, memberikan umpan kepada Lucas Leiva. Gelandang asal Brasil itu kemudian memberikan umpan lob kepada Benayoun yang menusuk dari lini kedua. Meski lemah, sontekannya gagal dijinakkan De Egea, Liverpool unggul 2-0.
Gol ini membuat suporter Liverpool bersorak, membuat suara gemuruh di dalam stadion, namun tidak untuk waktu lama sebab tujuh menit kemudian, tepatnya menit 102, Forlan mencetak gol bagi Atletico.
Johnson, yang seharusnya menjaga Forlan, bermain terlalu agresif saat berusaha merebut bola dari Reyes, membuat Forlan berdiri tanpa kawalan. Tanpa kesulitan, Forlan menerima umpan Reyes dan mengkonversinya menjadi gol.
Liverpool masih unggul 2-1 namun kalah dalam produktivitas gol tandang. Kenyataan ini membungkam sorak-sorai pendukung The Reds. Tim kesayangan mereka harus mencetak satu gol lagi dengan waktu tersisa tinggal 18 menit.
Para pemain Liverpool pun tampak kurang bersemangat menjalani sisa pertandingan, sebagai akumulasi dari kelelahan fisik dan kelelahan mental.
Gerrard dkk kesulitan menerobos pertahanan Atletico, tembakan jarak jauh dicoba, namun masih jauh dari sasaran. Upaya negatif pun dicoba Kuyt dengan menuntut penalti saat terjatuh di kotak penalti, namun wasit Hauge mengacuhkannya.
Hingga laga usai, tak ada gol tambahan tercipta. Pupus sudah ambisi Liverpool meraih gelar musim ini. Meski agregat 2-2, Atletico Madrid berhak tampil di final karena unggul produktivitas gol tandang.
Kekalahan Liverpool juga menggagalkan skenario All English Final.
Fulham telah menanti Atletico di final usai mengalahkan Hamburg 2-1 lewat gol Simon Davies dan Zoltan Gera. Sebelumnya mereka tertinggal lebih dulu melalui tendangan jarak jauh Mladen Petric di babak pertama. Fulham lolos dengan agregat 2-1.
0 comments:
Post a Comment